Monday, January 30, 2012 |

Pengalaman ‘Berkesan’ di RS. Mata Cicendo Bandung



Mata merah, panas, perih, berair, dan gatal luar biasa. Shock nya lagi ada selaput putih yang menyelimuti sebagian mata kanan. Ada apa ya Allah, semoga gak ada apa-apa. Sebuah status facebook kulayangkan karena sakit mata yang kurasakan ini benar-benar mengganggu.
Segera kucari kemungkinan penyebab nya di internet. Dari radang kelopak mata atau Blefaritis, infeksi bakteri atau virus, sampai katarak, membuatku semakin parno aja sama keadaan mataku sekarang ini.
Aku pun berinisiatif untuk berobat ke dokter mata terdekat. Jatinangor, Kota eh Desa tempatku menuntut ilmu ini unfortunately gak ada dokter mata >.< di klinik padjadjaran UNPAD sampai RS. AMC Cileunyi tidak ada, bahkan aku dapat informasi juga di RS. Hasan Sadikin tempat kalo tidak salah mahasiswa kedokteran unpad praktek juo tidak ado poli mata nya. Gedubrak! Dan saya pun harus rela menempuh jalan satu-satunya yaitu berobat ke RS. Mata Cicendo Bandung. Bismillah..


Benar saja berita yang saya dapatkan di internet kalau ingin berobat ke RS. Cicendo Bandung ini harus bersiap-siap antrian yang panjjaaanngg dan laammmaaa banget. Hiks.. karena pagi harinya saya ada bimbingan skripsi dikampus dulu, jadilah pukul 11 siang saya tiba di RS tsb. Dan wooww ternyata saya dapat antrian 236 ! saya yang sudah tahu sebelumnya pun Cuma bias bilang, “oh okay!” :o dan berita buruknya saya harus sabar menunggu 100 antrian lagi karena di loket tertulis 130. Hmmmm….

236. Congrats!!

Antrian
Setelah menunggu selama 2 jam akhirnya saya si antrian 236 ini pun menghadap  loket juga. Menceritakan gejala mata, membayar biaya registrasi sebesar (Rp. 20.000,- untuk umum), saya pun diminta naik ke ruang 202. Akhirnyaaa.. diperiksa dokter juga, girang saya didalam hati.

Eh tapi jangan salah ketika saya sampai kelantai 2. Saya pun kembali tidak bergairah karena melihat antrian lagi di depan ruang 202. Huff saya pun terpaksa duduk menunggu nama saya disebutkan.
Selang sekitar 30 menit nama saya pun disebutkan! Fani, jatinangor! Kata si embak suster nya. Dengan riang hati saya pun masuk kedalam ruang 202. Dan, apa yang terjadi? Ternyata saya pun harus mengantri (lagi) karena didalam ada beberapa dokter mata dengan alat pemeriksaannya yang masing-masing sibuk dengan pasien2. Ada beberapa pasien juga yang terlihat sedang menunggu panggilan lagi. Hmm okay saya menunggu lagi.
Selang beberapa menit (kali ini saya gak hitung), nama saya pun dipanggil, saya diperiksa, lalu menunggu lagi untuk kembali diperiksa lagi, kemudian nama saya dipanggil saya diperiksa lagi kali ini oleh dokter yang berbeda kali ini bertugas menuliskan resep obat. Dan saya, menunggu lagi  untuk mendapatkan resep tsb. Akhirnya setelah resep tsb berada dalam genggaman tangan saya dan disuruh turun untuk mengambil obat di apotik.
Dengan langkah letih saya pun ke apotik tsb, awalnya agak bingung karena tulisan umumnya hampir tidak kelihatan, setelah saya tahu saya pun meletakan resep tsb di rak, duduk menunggu lagi, nama saya dipanggil, membayar obat sebesar Rp. 77.000 (untuk umum) lalu saya mendapat nomor antrian lagi, menunggu lagi, nama saya dpanggi, akhirnyaaaa… saya pun mendapat obat saya. Yaitu dua uah tetes mata (1 untuk pembersih, 1 lagi untuk antibiotic). That’s all!



Hikmah dibalik itu semua:
Believe me, gak ada saya liat satu orang pun yang tersenyum disana saat itu. Saya tidak hanya mengasihani diri sendiri karena system yang begitu melelahkan ini (liat kan banyak sekali kata ‘saya menunggu lagi’), tapi saya juga kasihan dengan semuanya. Pasien dari berbagai usia yang mengantri berjam-jam, dokter-dokter yang sibuk menangani pasien yang tidak habis-habisnya dari pagi sampai sore, sampai embak2 apoteker yang sedikit tersenyum lelah. Kesian. Saya pun berdoa dalam hati, semoga rumah sakit pemerintah ini, kedepan pelayanannya semakin baik, :) aminn.
Tapi yang saya salut adalah, Karena rumah sakit ini juga bersedia menampung pasien yang membawa kartu maskin, jamkesmas, askes, dan lain2 bantuan. Bahkan saya dengar juga dia mendapatkan gratis karena apaa gitu saya lupa. Nah, bagi anda yang ingin berobat tapi gak punya uang, persiapkanlah maskin, jamkesma, askes, atau bentuk lainnya, untuk mendapatkan biaya yang relative lebih murah. Saya dengar pun kualitas obat ataupenyembuhannya juga paling top loh! Orang-orang dari berbagai penjuru daerah, bahkan saya dengar ada yang dari papua sana berobat nya juga di rumah sakit ini. Salut! Saya pun berdoa lagi dalam hati, semoga rumah sakit pemerintah ini, kedepan pelayanannya semakin baik, :)aminn.

Semoga bermanfaat :)

9 comments:

ilham"ieyummmz" said...

sorry hanya sekedar numpang lewat...mamah saya pemegang askes..dan untuk informasi mba saja..bahwa askes bukan sebagai "salah satu bentuk ketidakmampuan membayar" seperti halnya jamkesmas..askes adalah salah satu bentuk asuransi bagi PNS, ABRI, POLRI, dan pensiunan..askes bekerja dengan cara memotong gaji para PNS per bulan baik dipakai ataupun tidak...jadi askes membayar bukan gratis...tq mba semoga cepat sembuh yaaa ^_^

Anonymous said...

teh, kalau boleh tau dari jatinangor ke cicendo nya naik kendaraan apa? kalau naik kendaraan umum, naik nya apa?

Fani said...

Aku naik umum,dr nangor biasa naik damri DU,trus naik angkot jurusan ledeng bilang aja turun di Rs.Cicendo nanti turun deket situ klo ga slh jln mutiara.trims komentar dan masukannya ;)

Unknown said...

Teh mau tanya di cicendo ada poli apa aja? Klo sakit yg ky teteh gt ke bagian apa?

Fani said...

Aduh maaf say lupa hehe kamu bisa ke Cicendo nya langsung supaya lebih jelasnya ya.

Fani said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...

Dicicendo ada 9-10 poli..poli infeksi,tumor,katarak,glaukoma,NO,retina,refraksi,Low vision&lensa kontak,PO.klo yg mbak alami,mnurut saya penyakit Pterygium..

Unknown said...

Tteh sembuh? Ga gatel lagi matanya?

Fani said...

Alhamdulillah gak lama setelah berobat di Cicendo langsung sembuh @orinita pratiwi.