Wednesday, July 20, 2011 |

Curhatan Hati Perempuan I

AKU MANTAN PSK

Ini adalah sebuah cerita tentang perempuan yang lagi-lagi miris. seorang perempuan yang  pada awalnya ingin  memperbaiki kehidupannya dengan hijrah ke Kota, ternyata harus mengalami sesuatu yang menggemparkan hidupnya. ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita menyedihkan tentang perempuan. semoga dapat diteladani untuk kita semua, untuk lebih berhati-hati dalam menerima pekerjaan, atau keputusan lainnya.
***
“Pertama kali datang ke Jakarta, umurku masih 15 tahun. Aku diajak teman yang sudah bekerja di sebuah kafe kecil di Jakarta. Sampai di Jakarta aku tinggal didaerah Jatinegara. Di kafe itu kerjaanku adalah membuka botol untuk pengunjung kafe yang sebagian besar laki-laki. Setiap pengunjung yang membuka satu botol minuman yang seharga tujuh ribu rupiah, aku mendapatkan seribu rupiah. Sisanya diberikan pada bosku. Aku juga diberi gaji tetap sebesar Rp. 150.000,- per bulan dan boleh tinggal di rumah  bosku.”
“Di tempat kerjaku banyak yang menjadi PSK. Karena tergiur dengan penghasilan yang lumayan besar dalam waktu singkat akhirnya aku ikutan menjadi PSK. Waktu itu umurku baru saja 16 tahun. Pertama kali bekerja sebagai PSK, aku harus melayani pria di sebuah  motel dekat rel kereta api Jatinegara. Waktu itu aku  merasa takut dan  maluu banget. Aku akan melakukannya untuk pertama kali dengan orang yang enggak aku kenal sama sekali. Cowok itu membayarku sebesar satu juta rupiah karena waktu itu aku masih perawan. Selanjutnya tarifku menjadi tiga ratus ribu sekali pakai yang harus aku setorkan sebagian ke bosku.”
Hamil di Usia 16 tahun
“ Setiap bekerja, aku selalu meminta para pelanggan memakai kondom. Biasanya aku sudah menyediakan. Tetapi banyak juga yang menolak dan terpaksa aku menuruti. Suatu hari aku baru sadar kalau haidku terlambat. Waduh, aku mulai panik. Jangan-jangan aku hamil. Mana perutku terasa kembung terus. Aku pergi ke apotek sendiri membeli testpack. Ternyata hasilnya positif. Ya ampun, aku stres banget. Aku cerita ke temanku, tapi dia malah bilang ke bosku. Bosku marah dan menyuruh aku menggugurkan kandunganku. Dia memberiku jamu untuk menggugurkan kandungan yang harus aku minum tiga kali setiap hari. Waktu hari ketiga, aku mengalami pendarahan hebat. Bosku membawaku kerumah sakit dan aku dirawat di sana selama dua hari.”
“ Aku ingat banget. Waktu itu aku sendirian dirumah sakit. Badanku terasa sakit semua. Tapi yang paling aku ingat adalah perasaan sedih, stres, dan menyesal. Aku sudah membunuh bayiku sendiri. Perasaan seperti ini yang paling enggak aku suka. Perasaan kesepian dan enggak berharga.”
Mencoba Kabur
“ Waktu itu aku sudah mulai merasa enggak betah. Aku sudah capek melayani cowok-cowok itu. Aku mendatangi bosku dan bilang aku mau berenti. Bosku malah marah dan memukul aku. Dan kejadian itu dilakukan hampir tiap hari. Sering banget aku menangis sendirian, enggak tahan lagi diperlakukan seperti itu. Aku pingin cari kerja yang benar aja. Aku enggak mau diperlakukan seperti orang rendahan lagi. Akhirnya suatu hari aku punya ide untuk kabur.  Aku datang kerumah tetanggaku, menitip semua bajuku.”
“Aku pulang kerumah seperti biasa sehingga bosku enggak curiga. Biasanya kalau berangkat kerja waktu hari sudah mulai malam. Yang pergi duluan adalah anak buahnya, baru habis itu bos baru berangkat. Aku pura-pura berangkat seperti biasa dengan teman-temanku. Tapi di tengah jalan aku kabur, mampir sebentar kerumah tetangga untuk mengambil baju-bajuku, dan malam itu juga aku kabur ke rumah om ku di daerah Cengkareng.”
New Life
“Sekarang aku sudah enggak bekerja seperti itu lagi. Aku merasa bahagia dan lega banget. Rasanya bebas. Ada, sih teman yang masih menghubungiku dan mengajakku menjadi PSK lagi dengan uang yang lebih banyak. Kadang-kadang aku memikirkan hal itu. Tapi, kalau ingat segala macam perlakuan kasar, perasaan menyesal, dan tertekan itu, aku enggak mau lagi. Aku pengin hidup seperti cewek lain seumuranku. Waktu itu aku masih 17 tahun dan masih banyak mimpi yang pingin aku capai. Sekarang aku bahagia dengan hidupku. Kalau melihat kebelakang, aku bangga karena aku bisa keluar dari semua itu.”
(Kawanku magazine, No 27-2008, hal 48-49)

0 comments: