Sunday, November 27, 2011 |

Indonesia Dimasa Depan: Tidak Lagi Menjadi Buruh Di Negeri Sendiri



Mengapa pertanian tidak bisa berkembang? Mengapa pertanian Indonesia yang notabene negara tropis, sekarang justru kalah dari negara-negara lain yang notabene negara non tropis? mengapa kualitas hasil pertanian di Indonesia tidak sebaik di negara-negara tetangga? Maksud dari berbagai pertanyaan diatas, menjurus pada pertanyaan: “Ada apa dengan pertanian Indonesia??!!”
Seharusnya kita bersyukur dan malah justru memimpin dalam bidang pertanian. Betapa tidak, Indonesia, Negara yang kita cintai ini adalah negara agraris. Negara kepulauan dengan lahan pertanian yang begitu luas dan dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa. Tanah yang subur, biodiversitas, iklim tropis yang sangat mendukung berkembangnya berbagai sektor pertanian, seperti: tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Namun siapa sangka, di negara agraris ini, masalah pertanian begitu pelik dan seakan tidak memiliki jawaban pasti untuk menyelesaikannya. Dan kita, sebagai mahasiswa pertanian, harus berpikir dan bersikap kritis apa yang menjadi akar dari permasalahan pertanian Indonesia.
Hal diatas membuktikan bahwa, kekayaan alam yang melimpah belum tentu menjamin berhasilnya pertanian di negara tersebut. Jika kita mempunyai kekayaan alam yang begitu melimpah tapi kita sendiri  tidak mampu mengolahnya, maka bisa jadi orang lain yang notabene tidak se’kaya’ kita bisa lebih berhasil daripada kita. Jadi, sumberdaya manusiapun ikut berperan penting disini. Dan itulah yang menjadi akar permasalahan pertanian kita yaitu masalah mental dan perilaku rakyat Indonesia itu sendiri. Berawal dari sikap pemimpinnya yang masih masa bodoh tidak menunjukan perhatian dan keseriusannya akan masalah pertanian. Dan akhirnya yang menjadi korban adalah petani kita. Yang tidak lain adalah pelaku atau subyek yang mengolah sumberdaya alam Indonesia dengan melakukan kegiatan pertanian, demi kesejahteraan hidup masyarakat. Tugas yang diemban petani amat berat, tapi kepedulian dan bantuan yang sebenarnya merupakan tugas pemerintah masih amat kurang. Mahalnya harga benih berkualitas, sulitnya mendapatkan pupuk, harga jual pertanian yang rendah, kurangnya informasi/penyuluhan, semakin berkurangnya lahan pertanian, membuat semakin terpuruknya nasib petani juga pertanian kita. Ya, lagi-lagi pemerintah menyelesaikannya dengan melakukan import. Dampaknya, kita menjadi semakin tergantung akan teknologi, benih-benih, permainan harga, dan sistem yang jelas hanya makin membuat kita tidak mandiri saja. Belum lagi masalah ketahanan pangan yang pasti akan muncul jika setiap tahunnya lahan pertanian terkonversi. Dengan pertumbuhan penduduk 1,49 % pertahun, darimana kita mampu menyediakan pangan untuk 210 juta penduduk saat ini dan pertambahan setidaknya 3 juta konsumen baru setiap tahun. Terjawab sudah, import jelas bukan solusi terbaik untuk kita.
Lalu, bagaimana menyelesaikan masalah pertanian yang begitu pelik saat ini? Karena walau bagaimanapun juga, sektor pertanian merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya. Solusinya yaitu dengan memperbaiki sumberdaya manusianya. Yang dalam hal ini adalah petani. Baik itu berupa asuransi pendidikan, informasi saprodi, pelatihan sistem pertanian konvensional, dan penyuluhan teknologi terbaru pertanian, merupakan solusi yang diharapkan dapat memperbaiki wawasan dan prestasi petani. Dan itu semua tidak lepas dari mental, moral, dan peran pemerintah. Kenapa pemerintah? Karena pemerintah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap segala urusan negerinya. Termasuk pertanian, yang bukan merupakan hal sepele. Melalui kebijakan dan sistem yang diciptakannya diharapkan mampu memperbaiki pertanian Indonesia.
Jadi, dimasa depan Indonesia masih bisa memperbaiki pertaniannya? Sangat bisa, yaitu dengan sebaik-baiknya mengolah berbagai sumberdaya alam yang dimiliki yang belum tentu dimiliki negara lain. Apalagi pengetahuan dan teknologi pertanian saat ini sudah semakin berkembang. Berprinsip meningkatkan produktivitas tanaman, mempertahankan ketahanan pangan, menjaga kelestarian lingkungan, dan memenuhi kebutuhan hidup manusia yang semakin dinamis. Dari Agroforestry/wanatani, pertanian organik, multiple cropping, sistem pertanian terpadu, pengendalian hama secara terpadu, pemanfaatan mikrobiologi, LEISA, peningkatan varietas unggul/hibrida, dll. Dan akan semakin berkembang lagi ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Tapi mengapa pertanian kita tidak juga bangkit? Ternyata yang menyebabkan Indonesia hancur saat ini tidak lain adalah karena sistem yang diterapkan di Indonesia yang kacau. Tidak menimbulkan kesejahteraan secara merata, dan hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Maka, Indonesia dimasa depan idealnya menerapkan sistem yang terdapat hubungan timbal balik dan peran aktif antara pemerintah yang memegang kekuasaan dan kebijakan dengan masyarakat yang menjalankan atau pelaku pertanian itu sendiri.
Pada akhirnya, Indonesia dimasa depan, tidak lagi menjadi buruh di negeri sendiri. Karena mampu mengolah kekayaan alam yang dimilikinya, didukung peran aktif pemerintahnya, dijalankan dengan sistem yang memihak kepada pertanian, ditunjang dengan teknologi yang sesuai dengan kearifan lokal, mampu menjadikan Indonesia sebagai negara agraris sejati. Yang tidak hanya namanya saja, tapi juga bisa dibuktikan dengan prestasi dan bahkan mampu memimpin dunia. Mahasiswa, sebagai penerus bangsa dan agent of change, wajib berusaha merealisasikan tujuan kita bersama, yaitu memajukan pertanian Indonesia, yang pada akhirnya juga akan mampu memajukan Indonesia. 

0 comments: